RSS
 

INDONESIA BUTUH PAHLAWAN MUDA

30 Sep

Enam puluh enam tahun yang lalu sejak Indonesia merdeka, tapi sampai sekarang rakyat tak kunjung menemukan apa arti  kesejahteraan. Tiga belas tahun sudah Reformasi ditegakkan tapi rakyat masih saja miskin keadilan. Apa yang salah dengan negeri ini? Indonesia yang sumber daya alamnya melimpah ruah, tapi rakyatnya masih saja susah untuk mencari pekerjaan. Indonesia yang katanya Negara Hukum, tapi kenyataannya hukum bisa tunduk terhadap uang. Siapa yang patut kita persalahkan?.

Jika kita bandingkan Indonesia yang sekarang dengan Indonesia 55 tahun yang lalu, perbedaan yang sangat mencolok adalah lunturnya sebagian kepribadian bangsa yang dahulunya sangat dihormati oleh Negara lain. Ketegasan yang dulu menjadi karakter utama Negara ini seolah menguap tanpa bekas. Indonesia yang sekarang menjadi sangat mudah untuk disetir Negara lain, bangsa ini mengalami ketergantungan akut pada Negara lain. Hanya menunggu waktu, jika hal ini terus dibiarkan bisa jadi kita hanya akan menjadi penonton ditanah kelahiran kita sendiri. Yang lebih parah lagi, jika hal ini tak kunjung dibenahi kemungkinan besar suatu saat nanti Indonesia akan musnah, bahkan buku sejarah pun tak mengakuinya.

Apa kita akan terus melakukan pembiaran dengan keadaan ini? TIDAK. Disinilah peran para pemuda, sekumpulan orang – orang yang berjiwa bersih dan tegas. Pemudalah yang akan menjadi motor utama terjadinya perubahan di Negara ini, merekalah yang akan mengembalikan kejayaan Bangsa ini. Oleh karena itu Indonesia membutuhkan Pahlawan Muda.

Tapi, semudah itukah untuk menjadi Pahlawan Muda Indonesia?. Kita butuh pemuda yang benar – benar tangguh, yang benar – benar siap menghadapi dunia yang penuh akan lingkaran setan. Para Pahlawan Muda harus berani dan tak akan gentar menghadapi serangan yang mungkin akan dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak menginginkan perubahan. Oleh mereka pengkhianat bangsa yang suka mengisi perutnya dengan uang haram.

Tak hanya itu, mereka juga harus mampu melakukan inovasi – inovasi dalam menghadapi berbagai masalah pelik yang dihadapi Negara ini. Mereka juga harus mampu memikirkan cara agar Indonesia menjadi Negara yang lebih mandiri, menjadi Negara yang dibutuhkan bukan membutuhkan. Mereka harus mampu mengembalikan harkat dan martabat Ibu Pertiwi, Indonesia.

Mungkin cukup sulit untuk menemukan pemuda yang benar – benar mampu menjadi pahlawan muda Indonesia. Tetapi kita jangan peisimis, setidaknya kita juga harus berusaha melakukan sesuatu hal untuk Negara ini. Dimulai dengan hal – hal kecil, seperti menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri kita, lebih peka terhadap masalah yang dihadapi Negara dan ikut serta berpartisipasi dalam mengatasinya, dan masih banyak lagi hal positif lain yang dapat kita lakukan untuk Indonesia. Mungkin saja melalui hal – hal kecil tersebut, salah satu dari kita bisa jadi menjadi Pahlawan Muda Indonesia yang sebenarnya.

 
No Comments

Posted in Jurnalis

 

Sepeda untuk Zam

30 Sep

“ Bunda.. Bunda.. ayo.. pulang, nanti Zam telat ngaji” rengek bocah kecil kepada ibunya. Bunda pun hanya mengangguk kecil sembari membereskan dagangannya.

Dengan menggendong keranjang rotan yang masih penuh dengan buah apel Bunda berjalan menggandeng putra tunggalnya. Seperti hari – hari biasanya, kerenjang itu selalu pulang dengan keadaan masih penuh, tak banyak apel yang bisa dijual karena Allah memberikan sebuah karunia yang membuat Bunda terpaksa berjualan dengan keadaan diam.

“Bunda.. kan sebentar lagi ulangan..” sambil menarik narik selendang ibunya, Zam  mencoba mengatakan sesuatu. Bunda yang dari tadi melamun, mencoba menatap lembut anak kesayangannya. Tatapannya selembut awan, wajahnya yang berkeringat berseri – seri terpias terik matahari.

“Bunda, kan sebentar lagi ulangan. Kalau Zam dapat rangking satu lagi, Zam boleh minta sepeda?” pinta Zam lembut. Seolah kata – kata tersebut telah dipikirkan matang – matang agar tak menyakiti perasaan Ibunya. Zam tahu permintaan ini terlalu berat bagi ibunya, tetapi pikiran lugunya benar – benar menginginkan sebuah sepeda.

Mendengar permintaan itu, Bunda hanya bisa diam dan mengalihkan pandangannya kedepan. Zam menangkap gerakan ibunya tadi sebagai bentuk ketidaksanggupan. Dia pun tertunduk lesu, mengetahui permintaannya tidak dikabulkan. Kaki – kaki kecilnya menendangi setiap kerikil yang dilihatnya sebagai bentuk kekecewaan.

Sebenarnya Bunda ingin sekali mengabulkan permintaan Zam, tetapi mengingat kondisi ekonomi sekarang, jangankan untuk membeli sepeda untuk makan pun Bunda harus berkerja keras. Tetapi tiba – tiba Bunda teringat akan sesuatu, selama lima tahun terakhir ini Dia selalu dibuat bangga ketika menerima laporan nilai anaknya. Matanya sembab, tangisnya haru bahagia ketika namanya, Suryani, selalu dipanggil pertama untuk menerima raport anaknya. Sebuah kebanggan yang harganya lebih mahal dari sebuah sepeda.

Tiba – tiba langkah kaki Bunda terhenti, Zam yang sadar ibunya berhenti juga menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah ibunya. Tangan Bunda yang lembut kemudian mengusap rambutnya disusul dengan senyum yang mengembang tanda iya untuk Zam. Wajah Zam yang murung sontak berubah ceria, Dia berlari kesana kemari, loncat – loncat kegirangan. Melihat kelakuan anaknya Bunda merasa bahagia, senyumnya tak kunjung mengatup seperti bulan sabit tanggal tua, sejenak beban yang dipikulnya terasa ringan. Dalam hatinya Bunda bersyukur Allah masih berbaik hati memberikan seorang anak yang teramat disayanginya.

“Bunda… Zam janji akan belajar lebih giat lagi biar dapat rangking satu!!” teriak Zam dikejauhan.

***

Bunda benar – benar ingin mengabulkan permintaan anaknya. Hampir semua pekerjaan Bunda jalani hanya demi mengumpulkan kertas – kertas rupiah dan mengais uang receh. Bahkan suatu hari Bunda rela tidak makan sehari penuh demi menghemat pengeluarannya. Dalam hatinya Bunda berjanji walaupun anaknya tidak mendapatkan rangking satu Dia tetap akan membelikannya sepeda. “Itu akan menjadi hadiah terindah untuk Zam”, kata Bunda dalam hati.

Penerimaan raport tinggal 3 hari lagi, susah payah sudah Bunda membanting tulang. Jika pagi sampai siang Bunda berjualan buah dipasar, sorenya Bunda menjadi pekerja kasar. Mulai dari menjadi kuli panggul, buruh cuci, bahkan jadi pemulung pun Bunda lakoni hanya untuk putra semata wayangnya. Tak sia – sia kerja keras Bunda, dalam 3 minggu terakhir Bunda bisa mengumpulkan uang tiga ratus ribu rupiah, cukup untuk membeli sepeda bekas tak bermerek.

Hari ini sengaja Bunda menanggalkan keranjang rotannya dan dengan memakai baju terbaiknya Bunda keluar dari rumah reot warisan suaminya. Rencananya hari ini setelah mengantarkan Zam kesekolah, Bunda akan pergi ke pasar untuk membelikan Zam sebuah sepeda. Tentu saja tanpa sepengetahuan Zam, karena Bunda akan memberikan Zam sebuah kejuatan, kata asing yang jarang sekali orang pinggiran seperti mereka mendengarnya.

“ Bunda.. ayo berangkat” teriak Zam yang berseragamkan putih-merah membuyarkan lamunan Bunda yang sedang membayangkan betapa bahagianya Zam ketika menerima sepeda tersebut.

Segera Bunda bergegas melangkahkan kaki, menyusul anaknya yang telah berada didepan dan menggandengnnya. Setelah sebelas langkah berjalan, Parman, kakak ipar Bunda dengan tergesa – gesa mencegat mereka. Dengan raut wajah putus asa Parman coba menjelaskan sesuatu yang membuatnya hampir menyerah.

“ Dek Sur.. mbak mu lagi dirumah sakit, penyakit jantungnya kambuh” kata Parman dengan nada datar . Bunda hanya bisa mengelus dada dan menunjukkan raut wajah simpati.

“ keadaannya kritis..” sambung Parman.

“ Mbak mu tidak akan dapat penangan medis kalau kakak tidak bisa melunasi administrasinya”

Mendengar itu Bunda langsung mengeluarkan segempal uang yang diikat karet didompet kecilnya. Sejatinya uang tersebut akan digunakan untuk membelikan Zam sepeda, tetapi hati nurani Bundalah yang dengan seenaknya menyerahkan hasil kerja keras selama 3 minggu itu begitu saja. Uang itu telah berpindah tangan.

“ terima kasih Dek, terima kasih.. kakak janji bulan depan kakak ganti” dengan tangis yang mulai membasahi pipi, Parman menerima uang tersebut. Kalau saja Bunda tidak menahannya mungkin Parman sudah bersujud dikakinya karena berkat Bundalah dia mendapatkan secercah harapan akan kelangsungan hidup istrinya.

Setelah Parman beranjak pergi, keadaan kembali tenang. Zam menarik – narik tangan ibunya mencoba menyadarkan ibunya yang tak kunjung beranjak dari posisinya. Bunda yang kaget segera mengikuti langkah cepat Zam. Walaupun Bunda sedang berjalan tetapi tatapan Bunda kosong, Bunda baru menyadari apa yang telah dilakukannya telah membuyarkannya semua rencana bahagianya untuk Zam.

Bunda sampai rumah lebih cepat, tak ada lagi acara untuk mampir ke pasar seperti yang telah diagendakan sebelumnya. Sepanjang perjalanan pulang pikiran Bunda terus memutar ulang kejadian yang baru dialaminya. Bunda menyesal, bingung, tak tahu lagi apa yang harus dilakukan sekarang. Raut wajah Bunda pun ikut membisu.

Hari pembagian raport pun tiba, sekali lagi Bunda dibuat menangis haru. Zam mendapatkan rangking satu lagi untuk kesebelas kalinya. Dipeluknya Zam didepan kelas, rasa bangga, kasih sayang ikut larut dalam pelukan itu. Lalu ditatapnya wajah Zam, raut wajahnya seolah mengatakan bahwa dia tak sanggup untuk membalas semua kebahagiaan yang Zam beri. Zam pun membalas dengan senyuman, dia gembira, dibayangkannya sebuah sepeda baru yang terparkir dihalaman rumah.

Sepanjang perjalanan pulang, Zam terus mengajak ibunya berlari. Perasaan Zam begitu gembira seperti bayi yang mendapatkan botol susunya, langkah kakinya dibuat – buat seperti memainkan permainan engkle. Bahkan ditengah perjalanan Zam memamerkan kepada teman temannya bahwa sekarang dia sudah punya sepeda. Sedangkan Bunda, langkah kakinya kecil seolah tidak ingin cepat sampai rumah. Dia sadar bahwa sesampainya dirumah, dia hanya akan menyakiti perasaan buah hatinya.

“Bunda.. mana sepeda Zam?” tanya Zam kegirangan sesampainya dipekarangan. Bahkan sebelum Bunda menjawab, Zam pun sudah lari memasuki rumah, dia mengira sepedanya disimpan didalam agar tak diambil orang.

Ruang tamu, kamar, dapur bahkan kamar mandi sudah diperiksa Zam dengan teliti. Tetapi tetap dia tak menemukan satu pun benda yang mirip sepeda. Akhirnya dia kembali keluar rumah.

“Bunda.. sepeda Zam ditaruh dimana?” tanya Zam kebingungan.

Seketika itu Bunda berlutut didepan Zam, air matanya mengalir, kepalanya menggeleng, raut wajahnya mengatakan “ tidak ada sepeda nak”. Hati Zam pun mengkerut, rasa gembiranya menguap, dia seolah tidak percaya apa yang telah dia rasakan. Dengan perasaan kecewa Zam berlari menuju rumah, dibantingnya tubuh kecilnya disebuah ranjang besi. Dipeluknya guling kapuk lalu Zam menangis sejadi jadinya.

“ Bunda jahat!! Zam benci Bunda” teriak Zam disela tangisnya.

Sudah dua hari ini Zam mengurung diri dikamar, dia sangat kecewa dengan Bundanya. Dan aksi mogok makannya membuat Zam sakit, demamnya tak kunjung turun. Sudah berulang kali Bunda menjelaskan alasannya tidak membelikannya sepeda. Tapi, rasa kecewa Zam telah membutakan hati dan matanya, sia sia sudah Bunda berbicara dengan isyarat tangannya. Zam tidak mau mendengar lewat mata, Zam tidak mau tahu, yang diinginnya hanyalah sepeda.

“ Zam malu punya ibu bisu seperti Bunda!!” rasa kecewa Zam berubah menjadi kesal.

Sejak Zam sakit, Bunda tak sedetik pun beranjak dari ranjang. Walaupun berulang kali perkataan Zam menyakiti hatinya, tetap Bunda dengan kasih sayangnya merawat Zam. Dia yang menggantikan kompresnya, menyuapinya makan, bahkan menggendongnya untuk buang air. Bunda tahu yang bisa menyembuhkan penyakit anaknya ini hanyalah dengan dia membelikannya sepeda, akhirnya Bunda membuat sebuah keputusan penting yang mengorbankan sesuatu yang paling berharga yang pernah dimilikinya.

Pagi hari dihari ketiga, dengan senyumnya Bunda coba membangunkan Zam. Mulanya Zam tak peduli tapi setelah Bunda membelai lembut kepalanya, Zam mulai menoleh menatap ibunya. Bunda langsung menarik tangan Zam, tangan satunya membentuk isyarat “ ayo ikut Bunda, Bunda punya sesuatu”. Digandengnya Zam menuju pekarangan, sesampainya dipekarangan betapa kagetnya Zam ketika melihat sebuah sepeda berwarna merah mengkilap.

“ itu sepeda Zam, Bunda?” tanya Zam. Bunda pun hanya menjawab dengan senyum dan anggukkan kecil.

“horeee !! Zam punya sepeda” teriak Zam sambil berlari menuju sepeda barunya.

Zam belum bisa menaiki sepeda, dia hanya menuntun sepedanya kesana – sini. Bunda senang sekali dengan pemandangan yang dilihatnya, senyumnya bertambah lebar ketika melihat anaknya jatuh tertimpa sepeda tapi cepat bangkit sambil tertawa kecil. Ingin Bunda meneriaki Zam agar berhati hati, tetapi Tuhan melarangnya.

Capek bermain dengan sepeda barunya, Zam kemudian dengan hati – hati memarkirkan sepeda barunya, seolah tidak ingin satu pun makhluk yang menggangu sepedanya. Setelah itu dihampirinya Sang Bunda dan memeluknya.

“terima kasih Bunda, Zam sayang Bunda” bisik Zam ditelinga Bunda. Butir air mengalir dari mata Bunda, Bunda menangis. Dia senang karena bisa membuat anaknya bahagia.

Seperti biasa, setelah memeluk ibunya Zam selalu mencium tangan ibunya. Tetapi ketika mencium tangan kanan ibunya kali ini dia merasakan sesuatu yang janggal, cicin yang selalu melingkar manis ditelunjuk ibunya hilang dan meninggalkan bekas putih dikulit. Tetapi Zam tak pikir panjang, Zam sedang bahagia, dipikirannya yang ada hanyalah sepeda. Seandainya Zam tahu apa yang terjadi dengan cicin itu, mungkin perasaannya tak sebahagia itu.

Malam hari, karena kelelahan seharian penuh bermain dengan sepedanya. Zam tertidur dikursi ruang tamu, membuat Bunda terpaksa menggendongnya menuju ranjang. Lalu diambilkannya sebuah selimut, kemudian dengan hati – hati menyelimuti Zam supaya tak membangunkannya. Terakhir, dikecupnya kening Zam dengan penuh kasih sayang.

Ditengah sunyinya malam, Zam terbangun karena haus. Saat bangkit dari ranjangnya, Zam dibuat kaget melihat ibunya memandangi sebuah foto berpigora dengan air mata yang mengalir deras. Zam sekarang sadar, sepeda baru dibeli adalah hasil dari menjual cincin pemberian terakhir ayahnya yang amat Bunda sayangi. Zam ingat bahwa ibunya pernah berkata bahwa itulah pemberian yang terindah yang pernah Bunda terima.

“Bunda??”

“kenapa Bunda nangis?” tanya Zam memecah kesunyian. Bunda yang kaget langsung mengusap air matanya dan tersenyum membalas pertanyaan anaknya.

“ bener Bunda menjual cincin dari ayah untuk membelikan sepeda Zam?” satu pertanyaan lagi menyusul.

Tangis Bunda menjadi ketika mendengar pertanyaan lugu anaknya, dipeluknya Zam dengan erat. Bunda seolah tak ingin lagi diingatkan tentang pengorbanan terbesarnya, dia ingin segera melupakannya. Karena setiap teringat akan cincin itu, Bunda teringat akan sebua janji kepada ayahnya Zam untuk menjaga baik – baik cincin tersebut. Sedangkan Zam yang merasa bersalah ikut menangis sedih.

 

“ Bunda, maafin Zam”

Bercahayakan sinar rembulan yang menerobos sela sela lubang jendela, sepasang ibu dan anak itu pun semakin erat berpelukan, keduanya larut dalam rasa bersalahnya. Bunda merasa bersalah telah melanggar janji sucinya sedangkan Zam merasa bersalah karena menyebabkan ibunya menjual cincin kesayangannya. Tetapi pengorbanan besar telah terlanjur dilakukan hanya demi kebahagiaan seorang anak. Begitu Bunda, yang akan tetap banyak memberi tak harap kembali, seperti sang surya menyinari dunia.

 

cerpen pertama yang membuat saya mencintai dunia tulis menulis :D

 
No Comments

Posted in Sastra

 

Claudius Dipo Alam, Pemain Muda Indonesia Di Amerika Serikat Yang Siap Songsong Tingkat Lebih Tinggi

28 Sep

Diaspora pesepakbola Indonesia di luar negeri tidak hanya melulu harus berkisar di kawasan Eropa. Seperti yang dilakukan Dipo Alam, kancah di liga amatir Amerika Serikat pun diarunginya guna memupuk mimpi menjadi pesepakbola profesional.

Keinginan kuat Dipo menjadi pemain sepakbola sudah dimulai sejak dini. Mulai menggemari olahraga si kulit bulat saat berusia tujuh tahun dengan bergabung ke Merdeka Boys Football Association (MBFA), Dipo kemudian memperkuat tim AS-IOP di ajang Piala Specs serta DKI Jakarta di Liga Bogasari U-15.

Tahun 2005, Dipo mengikuti seleksi Indonesian Football Academy (IFA). Dari 1350 peserta yang mengikuti seleksi, lima pemain dari Jakarta terpilih berdasarkan penilaian pelatih (almarhum) Ronny Pattinasarany. Bakat Dipo memang mencorong untuk kelompok usianya dan menjadi salah satu dari 18 pemain yang terpilih IFA untuk kemudian sedianya dikirim berlatih ke akademi Ajax Amsterdam.

“Setelah itu tidak ada kontak tanpa alasan yang jelas. Jadi dari situ saya pergi ke luar negeri. Setelah stay empat bulan di mess pemain, tapi ternyata berhenti di tengah jalan,” kata Dipo dalam sebuah percakapan via Skype dengan pemimpin redaksi GOAL.com Indonesia Bima Said.

“Saya pikir, memang kecewa karena tak jadi ke Belanda, tapi saat itu too good to be true juga. Antara percaya dan gak percaya apakah bisa main. Dari kecil punya impian untuk main di luar negeri, membela klub besar. Tiap hari saya ikut seleksi dari rumah di Kemayoran, Jakarta Utara, naik bus, naik motor.

“Keluarga sudah bangga, bahkan saya sempat masuk TV. Dikasih uang saku. Kecewa, karena izin sekolah tiga bulan penuh dari jurusan IPA, sekolah sudah dikorbankan, mau fokus ke sepakbola maupun sekolah tapi susah,” cerita pemain kelahiran 15 Februari 1989 ini.

Kekecewaan tidak menghambat semangat Dipo. Mengumpulkan tabungan dari sejumlah pekerjaan serabutan, putra ketiga pasangan Gustian Palindih dan Rosmawati Hasibuan ini menatap karier di luar negeri.

“Saya trial di klub lokal Heemstede melalui izin tinggal dua minggu,” ujarnya.

“Pelatih di sana puas dan meminta saya mengurus visa untuk bisa lebih lama main di sini. Jadi saya pulang ke Indonesia untuk apply visa, tapi kemudian teman mengajak ke Amerika, sekalian untuk bersama-sama fokus meneruskan pendidikan sekaligus tidak ingin karier sepakbola terhenti, kami sama-sama mengurus visa ke Amerika Serikat. Lucunya, dia malah gak dapat visa, tapi saya dapat.”

“Jadi di umur 17 tahun, saya merasa ini tantangan hidup, untuk mandiri, belajar sendiri dan mencari nafkah sendiri.”

Di negara Paman Sam itu, Dipo meneruskan studi dengan berkuliah di Pasadena City College dengan jurusan Business Management. November 2006, Dipo mengikuti seleksi Chivas U-17. Namun, karena sudah memasuki usia 18 tahun, Dipo dikirim ke tim U-19 dan menjalani trial selama lima kali. Pelatih di sana memintanya menambah berat badan sampai hampir 15 kilogram untuk meningkatkan kemampuan.

“Saya harus ke gym dan butuh kurang lebih dua tahun untuk membentuk postur ideal yang diminta. Dari situ, saya ditunjuk mengikuti kompetisi U-23, yaitu Premier Development League (PDL). Banyak lulusan PDL yang ke MLS [Major League Soccer atau liga utama Amerika Serikat], bahkan Vedad Ibisevic dari TSG Hoffrnheim dan mantan pemain Manchester United Jonathan Spector adalah jebolan PDL. Saya lolos seleksi, sudah masuk tim, tapi kemudian terkendala masalah dana,” sambungnya.

“Mereka akui sepakbola di AS bukan olahraga nomor satu, jadi berlatih lima kali seminggu, saya butuh perjalanan naik bus tiap hari dua jam untuk latihan. Padahal saya tetap kuliah. Mereka tidak bisa membiayai, solusinya saya harus ada green card yang juga bisa meringankan biaya kuliah, dan semuanya harus diurus sendiri.”

“Jadi sambil mengurus green card, saya ikut liga amatir sambil fokus belajar. Sempat jadi tukang cuci piring di restoran Chinese, jadi waiter di restoran Jepang, pokoknya kerja keras untuk membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-hari.

“Dari situ saya ikut kompetisi amatir dan bergabung dengan klub Turbo FC. Di sini saya membantu tim juara musim lalu dan jadi top scorer dengan 21 gol, termasuk dua gol di partai final untuk turnamen di California. Akhirnya saya terpilih sebagai MVP.”

Tahun depan, Dipo berencana mengikuti seleksi program tahunan “One Shot One Goal“, yang mengirimkan 23 pemain muda berlatih di Meksiko tahun ini. Berkat green card yang sudah dikantunginya, Dipo juga leluasa meneruskan karier sebagai pesepakbola. Ada beberapa kemungkinan lain yang dipikirkannya saat ini.

“Saya mungkin akan minta lagi untuk direkrut Legends FC di Premier Development League. Saya juga bisa trial ke Swedia, atau ke Cina. Waktu itu ada agen asal Cina yang memantau pemain-pemain di sini, salah satunya menawarkan main di Chinese Super League untuk memperkuat klub Guangzhou Pharmaceutical FC. Sekarang lagi diurus semuanya dan saya akan kontak agen itu untuk kepastiannya,” tukasnya.

“Saya ingin melihat kesempatan manapun, saya akan mempertimbangkan semuanya. Saya ingin fokus buat diri sendiri dan banyak latihan, mengasah permainan. Sekarang bisa 100 persen siap, dan di manapun saya akan ambil kesempatan itu kalau sudah di depan mata.”

Dipo juga tidak menutup kemungkinan berkiprah di tanah air.

“Klub Indonesia juga bisa dipertimbangkan. Saya mau main di manapun, saya di sini juga belajar tentang kehidupan. Tiap hari main bola sambil kuliah dan kerja. Saya sendiri, saya berpikir gimana mengatasi masalah dalam kerjaan, bagaimana tanggungjawab dalam studi,” imbuhnya.

“Saya bersyukur, ini pengalaman hidup yang berharga. Sekarang saya 100 persen siap untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi.”

Dipo mengakui masih mengikuti perkembangan sepakbola nasional, termasuk perkembangan Syamsir Alam yang sudah dikenalnya sewaktu sama-sama memperkuat AS-IOP. Dipo berharap Alam sukses dengan kariernya di Peñarol saat ini sambil menitipkan pesan untuk meningkatkan kemampuan fisik, karena “susah hanya mengandalkan skill dan mengandalkan kecepatan dribble dalam sepakbola modern”.
Sebagai pemain yang pernah mencicipi pengalaman bermain di Belanda dan Amerika Serikat, Dipo menyampaikan pesan yang gamblang kepada PSSI selaku otoritas sepakbola tertinggi nasional.

“Fokus ke pembinaan dan follow-up tanpa putus. Ide naturalisasi saya dukung karena mereka bisa bagi pengalaman, meski jangka panjang tidak begitu bagus. Harapan saya jangan sampai putus di tengah jalan dan saya dukung kalau PSSI melakukan program pembinaan dan kompetisi usia dini,” sebutnya.

“Sebenarnya, kita tidak kalah jauh dengan pemain luar negeri. Di Belanda, sampai umur 18 tahun kita masih bisa bersaing. Di AS, U-17 main di Chivas tapi memasuki U-19 lain lagi, karena mereka lebih besar. Mereka benar-benar memperhatikan setiap pemain. AS-IOP jauh lebih bagus pembinaannya, tapi di AS mereka lebih berkesinambungan, setiap pemain diperhatikan.”

(sumber:http://www.goal.com/)

 

Hello world!

28 Sep

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!